Minimnya Ruang Laktasi jadi Kendala Kelancaran ASI


Ketersediaan ruang khusus untuk tempat menyusui bagi ibu dan anak perlu diadakan dalam setiap ruang publik. Sayangnya, meski sudah dianjurkan oleh Pemerintah, fasilitas bagi ibu dan anak ini masih minim.

Hal ini mengemuka dalam diskusi Pekan ASI Sedunia yang jatuh pada tanggal 1-7 Agustus 2012, di Yogyakarta, Senin (7/8). Seperti yang diamanahkan dalam PP No.33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif, perlu diadakan ruang laktasi atau ruang khusus ibu dan anak untuk menyusui di setiap ruang publik seperti mal, bandara, dan instansi pemerintah.

Ruang laktasi ini bersifat khusus, bersih, nyaman, memiliki ketersediaan air yang cukup, serta bisa ditambah kulkas. "Tidak semua ruang publik memiliki ruang laktasi. Padahal, ASI eksklusif perlu rutin diberikan agar kesehatan ibu dan anak tetap terjaga," papar Spesialis Anak RS Sarjito Yogyakarta Tunjung Wibowo.

Ruang laktasi sangat penting untuk mendorong pemberian ASI ekslusif. Berdasarkan data dari WHO hingga tahun 2012 ini, pemberian ASI ekslusif baru 37 persen dan baru terpenuhi di 26 negara. Rendahnya pemberian ASI ekslusif ini, kata Tunjung, salah satunya disebabkan oleh minimnya ruang laktasi.

Ia memberi contoh, bila seorang ibu adalah  pekerja kantoran maka setiap dua jam sekali harus memerah ASI. Bila tidak dilakukan maka produksi ASI justru tidak produktif lagi. Untuk itulah, di lingkungan perkantoran perlu disediakan kulkas untuk menyimpan ASI tersebut. "Ruang laktasi ini perlu diadakan dalam setiap ruang publik. Keberadaanya akan membantu meningkatkan kesehatan ibu dan anak," tandas Tunjung.

Minimnya ruang laktasi juga diakui oleh Amirrudin sebagai Staf Seksi Gizi Dinkes DIY. Di Yogyakarta sendiri, belum semua ruang publik menyediakan. Hal ini disebabkan karena ruang laktasi membutuhkan ruang khusus yang bersih dan nyaman. Tak hanya itu, pengetahuan masyarakat awam tentang pentingnya ASI juga minim.

Ada beberapa faktor yang membuat rendahnya pengetahuan soal ASI, di antaranya rendahnya sosialisasi serta pengaruh lingkungan. Tunjung mengatakan, kecenderungan yang terjadi di Indonesia adalah ibu memberikan susu formula pada anak di rentang usia 0-2 tahun. Padahal, pemberian susu formula justru membuat bayi rentan cacat.

"Biasanya di kalangan masyarakat bawah pengetahuan tentang ASI eksklusif masih minim. Mereka justru percaya pada susu formula yang dipandang lebih sehat," papar Tunjung.

Pemberian ASI eksklusif harus dilakukan sejak bayi berusia 0-6 bulan. Bahkan ketika usianya menginjak dua tahun, ia tetap membutuhkan ASI ekslusif dan makanan pendamping. ASI diketahui juga mencegah munculnya penyakit seperti asma, diare, dan jantung. Selain berdampak positif bagi anak, ASI juga dapat menurunkan angka kematian yang disebabkan pendarahan bagi Ibu.

Hal senada juga diungkapkan oleh Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes DIY Inni Hikmatin, bahwa pengetahuan tentang ASI eksklusif masih minim di kalangan ibu-ibu. Justru yang terjadi adalah ASI dikalahkan oleh susu formula. Menurutnya, faktor yang paling berpengaruh adalah lingkungan sekitar. "Untuk meningkatkan pengetahuan ini,kami akan meningkatkan sosialisasi," tambahnya.

Kendala ruang laktasi dan minimnya pengetahuan mengenai ASI menjadi tantangan dalam hari Pekan ASI Sedunia yang memiliki tema Understanding the Past Planning for the Future: Maknai Masa Lampau Demi Kemajuan Masa Depan, Menyusui adalah Hak Ibu dan Anak.

Tema ini sekaligus menargetkan pada 2025 mendatang sebanyak 50 persen dari jumlah bayi di bawah usia 6 bulan diberi ASI eksklusif. Target ini dimaksudkan untuk mengurangi terjadinya 45 persen kematian bayi akibat infeksi neonatal, 30 persen kematian akibat diare, dan 18 persen infeksi saluran pernafasan.


http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/08/minimnya-ruang-laktasi-jadi-kendala-kelancaran-asi



Related Search